Blogger Widgets

Sabtu, 04 Januari 2014

***RINTIHAN ALAM SEMESTA***


Alam menangis.....
Menangis karena anak cucunya mulai berani menelanjangi diri
Menangis karena mendengar dentungan senjata api

Alam menangis....
Menangis karena semuanya terjangkit individualis

Alam menangis....
Menangis karena yang mampu sibuk menghitung butiran-butiran beras dan emas
Namun, ya Allah....
Rasanya alam akan tetap menangis tumbuhan dogerogoti,
Bila kebudayaan dicemari.
Bukankah mata batin kami untuk mengerti.


Bahasa kami adalah satu,
Bila Sabang sakit, Marauke kan menjerit.

Alam merintih...
Merintih karena penghuninya senang menjual nurani

Alam merintih....
Karena masing-masing maunya berjalan, dan menunjukkan dirinya sendiri.

Alam merintih...
Merintih karena yang tahu hanya sibuk menghitung diri..
Ya, Allah...
Terimakasih bahwa engkau telah berikan kami umat bersemayam,
Yang kaya akan tumbuhan,
Yang kaya akan lautan,
Yang kaya akan kebudayaan.
Sentuhkan dalam hati kami akan makna pengorbanan.

Bahwa, kami adalah satu
Bila Sabang sakit, Marauke kan menjerit.

Alam menjerit...
Menjerit karena penghuninya sudah melelehkan ekstasi
Ekstasi jadi nasi, nasi jadi ekstasi
Beras jadi miras, miras jadi beras,
Tontonan jadi tuntunan, tuntunan jadi tontonan.

Alam menjerit....
Menjerit karena yang salah tiada tempat untuk kembali,
Kau adalah kau, aku adalah aku.
Anakmu ya anakmu, anakku ya anakku,
Salah itu kotor, kotor itu nada yang mendekati ia akan ternada.

Alam menjerit....
Menjerit karena itu semua dianggap dapat selesai sendiri-sendiri.

Duh, Gusti...
Bagaimana ini bisa terjadi,
Kepada siapa lagi anak cucu kita akan bertanya,
Tentang bulan, tentang bintang, tentang matahari,
tentang Tuhan, tentang surga.
Maka, ya Allah....
Gerakkan hati kami untuk mengerti arti pengabdian.

Bahwa, kami adalah satu
Bila Sabang sakit, Marauke kan menjerit.

(Anak CSJS Al Madani, 11/2011)



0 komentar:

Posting Komentar