Alam menangis.....
Menangis karena anak cucunya mulai berani menelanjangi
diri
Menangis karena mendengar dentungan senjata api
Alam menangis....
Menangis karena semuanya terjangkit individualis
Alam menangis....
Menangis karena yang mampu sibuk menghitung
butiran-butiran beras dan emas
Namun, ya Allah....
Rasanya alam akan tetap menangis tumbuhan dogerogoti,
Bila kebudayaan dicemari.
Bukankah mata batin kami untuk mengerti.
Bahasa kami adalah satu,
Bila Sabang sakit, Marauke kan menjerit.
Alam merintih...
Merintih karena penghuninya senang menjual nurani
Alam merintih....
Karena masing-masing maunya berjalan, dan menunjukkan
dirinya sendiri.
Alam merintih...
Merintih karena yang tahu hanya sibuk menghitung diri..
Ya, Allah...
Terimakasih bahwa engkau telah berikan kami umat
bersemayam,
Yang kaya akan tumbuhan,
Yang kaya akan lautan,
Yang kaya akan kebudayaan.
Sentuhkan dalam hati kami akan makna pengorbanan.
Bahwa, kami adalah satu
Bila Sabang sakit, Marauke kan menjerit.
Alam menjerit...
Menjerit karena penghuninya sudah melelehkan ekstasi
Ekstasi jadi nasi, nasi jadi ekstasi
Beras jadi miras, miras jadi beras,
Tontonan jadi tuntunan, tuntunan jadi tontonan.
Alam menjerit....
Menjerit karena yang salah tiada tempat untuk kembali,
Kau adalah kau, aku adalah aku.
Anakmu ya anakmu, anakku ya anakku,
Salah itu kotor, kotor itu nada yang mendekati ia akan
ternada.
Alam menjerit....
Menjerit karena itu semua dianggap dapat selesai sendiri-sendiri.
Duh, Gusti...
Bagaimana ini bisa terjadi,
Kepada siapa lagi anak cucu kita akan bertanya,
Tentang bulan, tentang bintang, tentang matahari,
tentang Tuhan, tentang surga.
Maka, ya Allah....
Gerakkan hati kami untuk mengerti arti pengabdian.
Bahwa, kami adalah satu
Bila Sabang sakit, Marauke kan menjerit.
(Anak CSJS Al Madani, 11/2011)

0 komentar:
Posting Komentar